Hello world! eh bukan, Hello WP!

Ah ini semua gegara teman kantor itu, iya…perkenalkan, namanya Dika. Dia yang meworo-woro saya buat bikin blog baru. Padahal kalau dipikir-pikir niat ngeblog saya itu sifatnya “kumatan”, kadang menulis blog itu ketika mood sedang bagus atau karena ada tawaran blog berbayar…hehe :p

Entah mau posting apa nantinya, toh saya ini sudah betul-betul keranjingan dengan si mikro blogging bernama Twitter itu. Eh, sudah follow saya belum? Iya, akunnya sama seperti nama blog ini, @umenumen. Kalau kata Simbok @venustweets sih nama “umenumen” ini aneh. *aku padamu, Mbok…. #eaaa *

Tapi ya begitulah….kini saya mau merambah ke WP juga. Walaupun ini sebenarnya lebih ke sebuah tuntutan. Hihihi….

Advertisements

Perjalanan pun dimulai..

Kamis,8 Juli 2010
Siang

Cuaca yang sedari pagi terik tiba-tiba berubah menjadi kumpulan awan gelap. Berat dan menggantung di udara. Petir pun mulai bersahut-sahutan.

Saat itu baru aku peserta yang hadir, dan dengan diantar keluargaku. Jam sudah menunjukan jam 2 siang. Sebuah SMS datang: Gw masih di warung padang dlu nie, hehehe pada kelaparan sekeluarga. -Boak-

Oke, nampaknya hanya aku yang datang terlalu cepat..hehe.

Setelah agak lama, Boak kembali mengirim SMS. Sudah sampai katanya.. Benar saja. Dia sudah berdiri di tempat kami akan bertemu. Dan astaga…..kopernya besar dan berat sekali!! “Bawa apaan bro?” tanyaku. “Batik, buat dijual. Hahaha!” katanya sambil tertawa.

Adhi dan Ivan datang beberapa saat kemudian. Mereka sudah bersama Mbak Emilia dan seorang pria yang akan kami kenal dengan Mas Iyan. (hehehe… :p)

Vaseline MEN Amazing Journey

Sebuah brosur memang hanyalah sebuah brosur. Secarik kertas yang berisi pengumuman, yang terkadang memberi penawaran atau pun pencarian orang hilang. Dan semua perjalanan amazing itu berawal dari sini…

Vaseline MEN Amazing Journey: antara Mimpi, Tantangan dan Gratisan.

Kebayang gak sih sob..kalo semua yang lo mimpi-mimpikan bisa didapat dengan gratis?! Misalnya makan gratis, minum gratis, baju baru gratis, gadget gratis, motor gratis, mobil gratis, pacar…eitss, mimpinya kebanyakan sob! Hahaha..

Tapi…..siapa sih yang hari gini nolak gratisan? Gue aja ogah kalo harus bayar oksigen yang gue hirup dari lahir sampe sekarang. Pasti tagihannya melebihi tagihan air minum, tagihan listrik dan tagihan kartu kredit!!

Gue jamin yang namanya dapat gratisan itu asik dan menyenangkan. Sama seperti waktu gue dapet tiket gratisan nonton festival musik Jazz terbesar di dunia beberapa waktu yang lalu di Jakarta. Selain bisa enjoy sama musiknya, yaaa apalagi kalo bukan berburu gratisan juga. *minimal sampel makanan ringan lah…hehe*

Sampe ada beberapa cewek seksi dan cantik ngasih selebaran ini nih..

Lho..kok ada foto gue?!!!
*KEPLAK!! Hei, itu Darius Sinathrya..bukan Umen Rada Setia!!*
Baiklah..baiklah..
Ya..disitu terpampang jelas foto abang gue, Darius Sinathrya *deuhh…tetep, maksa (-..-“)* yang sedang bergaya memanggul bola. *berasss…kali ah, pake dipanggul!*

“DARE TO TAKE A JOURNEY?”

Vaseline MEN Amazing Journey

Wah apaan nih? Perjalanan imezing *gaya ngomong mas Tukul* kemana nih?

“LET YOUR AMAZING SKIN WIN THE AMAZING JOURNEY TO SOUTH AFRICA

HA?! Afrika Selatan?? How?

Yup, lo gak salah baca sob! Vaseline MEN menantang siapa saja buat mengikuti 14 Tantangan di Vaseline MEN Amazing Journey yang 4 Hadiah Utamanya adalah menonton pertandingan terbesar tahun ini di Afrika Selatan!! Ya..ya..benar!!! PIALA DUNIA 2010, sob!!! Dan GRATIS pula!!!!! *si penulis blog ngiler lagi ngebayangin dirinya sedang di Afrika*

Gak cuma itu sob!! Lo tau kan komputer tablet paling keren saat ini?? Ya, I-Pad keluaran Apple!!
Ada 4 buah I-Pad yang siap diburu juga, sob! Keren kan?
Eitsss, gak sampe disitu..masih ada 10 buah Canon G-11, Produk Adidas dan voucher MAP sebesar Rp 250.000,-!!
DAN SEMUANYA GRATIS…TIS…TISSS!!
*Sssst..Entis “Sule” Sutisna jadi nengok tuh! Berasa dipanggil. Hehehe..*

Eeeehh…malah pada bengong, kenapa? Bingung? Jangan bingung sob, lo cuma harus log on ke: http://vaselinemen.com
Lalu ikuti 14 Tantangan Vaseline MEN Amazing Journey buat dapetin hadiahnya. Mulai dari game Penalty Shoot Out, Quiz Sejarah Piala Dunia, Dribbling Journey Quiz, Tebak Posisi Bola hingga Foto Rame-Rame Pakai Vaseline. Log on tiap hari buat dapetin skor tertinggi!! Biar kesempatan lo dapet gratisan makin dekat dan gak cuma mimpi, sob!

Buat lo yang sering berkicau di Twitter, jangan lupa juga buat follow @vaselinemen dan ikutin games serunya. Lumayan lho bisa dapet sampel gratisan. Karena ada sekitar 40. 000 paket sampel gratis!!! Silahkan klik disini.

Tapi kalo lo pengguna buku muka alias Facebook, silahkan klik disini.

Eh…masih bengong!! Buruan sob, abang gue Darius Sinathrya dan Vaseline MEN gak nuggu lama-lama buat dapetin pemenangnya. So, SERBUUUU…!!!!!!!

*This Postingan is dedicated to Para Pemburu Gratisan. And thanks to Mbak-Mbak SPG Vaseline MEN di Java Jazz Festival for the brochure. Love you :”> (blushing)
**Special thanks to Darius Sinathrya.
***Photos by FIFA, Apple.Inc, Canon dan Adidas.



Mengukur Kadar Nasionalisme.

Seorang teman bertanya seberapa besar rasa nasionalisme padaku. Aku memang tak langsung menjawabnya, alih-alih membuka mulut kukeluarkan telepon selularku dari kantong celana. Lalu kutunjukan padanya.

Temanku heran dan mengamati ponsel itu dalam-dalam. Ia memandangiku, “Apa? Lo mau ngasih tahu apa?!”

“Lihat dulu..!”

Lama ia perhatikan.

“Men, lo pake Bahasa Indonesia ya di hape lo?”

“Iya. Salah? Gak kan?”

“Ya emang enggak, tapi kalo gue ribet aja bacanya. Udah keseringan pake Bahasa Inggris,” katanya.

“Tapi bukannya gue gak ngerti Bahasa Inggris sama sekali.”

Dahinya mengernyit, “Lha, terus apa? Emang Bahasa Indonesia lo udah bener?”

“Nah, itu dia! Karena gak bener itulah gue sebenernya malu. Jadi kalo orang tanya tentang rasa nasionalisme ke gue, yang gue jawab pertama adalah penggunaan Bahasa Indonesia di setiap kesempatan. Terserah orang mau bilang gue sok atau apa. Cuma itu hal yang pertama gue bisa lakuin. Walau gue juga gak bagus-bagus amat dalam berbahasa yang baik dan benar.”

“Terus hubungannya sama rasa nasionalisme bela negara apa? Bukannya hampir sama?”

“Mmm..itu bukannya patriotisme yah?”

“Okelah.. Tapi contoh lainnya?” tanya temanku.

“Wah..kalo yang lo maksud tentang prestasi unt–“

Ia memotongku, “Itu juga bukan?”

“Ya itu, gue gak mampu sejauh itu.”

“Tapi ya, kalo pasang-pasang atribut–“

“Sori gue potong. Itu dia kesalahan dari kita. Kita kadang mikir untuk mengukur rasa nasionalisme itu harus pasang atribut kenegaraan, menang olimpiade atau sebagainya. Padahal menurut gue gak mesti gitu-gitu amat. Lo bisa hafal dan memaknai Pancasila juga udah sama. Cuma kebanyakan kita udah terlalu males buat itu semua.

Makannya gue cuma bisa mulai dari hal terkecil seperti menerapkan Bahasa Indonesia disegala kesempatan semampu gue. Ya kalau lupa, dimaklum aja..” kataku sambil tertawa.

“Intinya?”

“Bagi gue banyak cara mengukur nasionalisme. Gak mesti yang aneh-aneh. Bodo amat gue dibilang apa.. Mau sok kek, mau belagu kek… Toh orang lain juga tahu mana yang bener.”

Temanku tertawa tertahan.

“Kenapa lo ketawa? Heh..jawab! Apaan kagak?”

“Pantesan bahasa di Facebook lo Bahasa Indonesia mulu, gue pikir lo rada bego dan gak nger–“

“Akh..sial lo!!”

Kami pun tertawa.

***

Etika Berwawancara.

Seorang ibu berbicara terbata-bata sambil menangis di depan mikrofon bertuliskan sebuah nama salah satu stasiun tv nasional, “Sa..sa..ya eng..gak tahu ke..kejadi..annya, Pak. Tahu..tahu rum..ah sa..ya sudah ludes di..lalap a..api, Pak.”

“Ibu sedih?” tanya suara pria tanpa sosok yang diketahui reporter tv itu bertanya pada si ibu.

“Sangat sedih, Pak.”

Astaga..pertanyaan macam apa itu?! Jelas-jelas si ibu menangis sedih karena rumahnya ludes dilahap si Jago Merah! Secara penilaian awam pun, penonton tahu keadaan hati si ibu dari tayangan tersebut.

Lalu ada lagi, “Bapak lagi nunggu antrian ya, Pak?” Tanya si reporter.

(Jelas-jelas si bapak sedang antri)

“Iya,” jawab si bapak.

“Antrian apa, Pak?”

(Jelas-jelas juga membawa tabung gas isi 3 kilo)

“Antri gas 3 kilo..”

“Memangnya untuk apa, Pak, gas 3 kilo?”

Astaganaga..! Reporter ini sekolah tidak, sih? Pertanyaan yang diberikannya sungguh tak berbobot sama sekali. Dan ini sering terjadi di hampir semua liputan berita tv nasional.

Memanglah jumlahnya sedikit dan–biasanya juga–terjadi oleh para kontributor daerah, tapi apakah tak ada standar pemilihan reporter sebelumnya? Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?

Bukankah tak baik pula–dalam contoh pertama diatas–jika seseorang yang sedang mengalami guncangan tiba-tiba diwawancarai? Ini jelas-jelas kurang ber-etika. Jangan karena si ibu bersedia untuk diwawancarai lantas langsung benar-benar diwawancarai. Secara psikologis pasti tidak dibenarkan. Coba saja bayangkan jika kita tiba-tiba terkena musibah besar lalu ditanya-tanyai demi sebuah berita berdurasi 1-2 menit. Kita pasti butuh ketenangan untuk menghadapi musibah itu. Tidak langsung ditanya-tanya, butuh waktu menenangkan diri pastinya.

Belum lagi jika berita yang tak ada dipaksakan ada. Yang sebenarnya gosip tetapi dijadikan fakta dengan cara memaksa pula! Sungguh tidak ada etika berwawancara sama sekali.

Dan parahnya lagi, tayangan berita seperti itu ada di depan mata kita setiap hari. Dari pagi hingga malam hari tak henti-henti.

Pertanyaannya.. Akankah selalu seperti ini?

Indonesia: Negara Murah Senyum?

Saya tersenyum-senyum membaca sebuah artikel yang mengatakan kalau masyarakat Indonesia paling murah senyum. Namun sayang, artikel tersebut kurang jelas sehingga memaksa saya untuk “berlayar” di dunia maya. Menunggu sekian lama akhirnya saya mendapatkan info yang lengkap mengenai artikel itu. Ternyata yang dimaksud “murah senyum” itu adalah hasil survey The Smiling Report 2009 yang menempatkan Indonesia pada posisi pertama Negara Paling Murah Senyum Di Dunia dalam pelayanan publik serta transportasi dengan nilai 98%. 

Cukup takjub saya membaca artikel itu… Bayangkan saja, disaat banyak orang senyum-senyum tanpa sebab Indonesia ternyata mendapatkan predikat seperti itu. Jujur saya katakan, “Luar Biasa…!”

Kenapa saya bilang luar biasa?

Anda tentu paham dan tahu bahwa banyak orang-orang disekitar kita memasang topeng dimukanya. Penuh kepalsuan, kebohongan dan sebagainya. Tahu apa saya? Bisa saja saya sendiri yang malah sedang memasang topeng. Hanya saja topengnya terlalu bagus untuk menutupi semua itu. Sehingga banyak orang yang tak bisa melihat kebusukan dan kepalsuan kita, ya…mungkin pepatahnya adalah “…tercium juga”.

Artikel itu makin menggelitik saya, menambah senyum di wajah ini. Apa mungkin..yang dimaksud murahnya senyum orang Indonesia adalah karena banyak caleg gagal yang sekarang senyam-senyum tak jelas di rumah sakit jiwa? Kenyataannya memang begitu, makin banyak “orang tersenyum tanpa sebab” sehingga makin banyak pula orang gila di negeri ini. Sungguh ironi…

Lalu bagaimana kalau yang dimaksud senyumnya orang Indonesia adalah senyumnya “minim pendidikan”? Ada sebuah diskusi di internet yang bilang kalau orang asing, sebut saja orang bule, bertanya kepada masyarakat kita dengan bahasanya (yang kebetulan banyak tak dipahami masyarakat kita) sulit dipahami karena akses pendidikan kita yang sangat minim. Tapi saya tangkap sebagai “bodoh” yang diperhalus.

 

 

Oke…mungkin benar masyarakat kita (kebanyakan) akan senyam-senyum tak paham berinteraksi dalam bahasa asing karena tingkat pendidikan kita yang rendah. Lalu salah siapa? Apakah jenis “senyum tak mengerti” ini yang harus dipertahankan? 

Saya jadi ingin tertawa, bukan senyum lagi malah.

Terang saja! Saya pernah berada pada kalangan dimana senyum adalah senjata keteduhan hingga senjata basa-basi.

Senjata keteduhan yang saya maksud adalah senyum ikhlasnya seseorang. Saya sering menerimanya (semoga saja benar!) dari kerabat, keluarga serta sahabat saya. Walau terkadang saya juga ragu apakah itu senyum keteduhan atau senyum basa-basi.

Dan ternyata senyum basa-basi itu lebih sering tersungging dari semua jenis senyum apapun di muka bumi ini, atau paling tepatnya di Indonesia. Anda boleh tak percaya, tapi saya meyakinkan hal itu. Kenapa? Tipikal orang Indonesia kebanyakan, rasa “tak enak”.

“Kenapa lo senyum ke dia? Kenal?” tanya temanku.

Langsung kujawab, “Gak kenal sih, tapi gak enak aja! Basa-basi lah…”

“Bener juga…”

Hm…saya pun jadi senyam-senyum tak jelas menulis jurnal ini!

***