Vijay: Balada Cacing Lapangan Cibubur.


Lapangan itu berada tepat di pinggir jalan raya yang permukaannya menurun. Tidak jauh dari sana berdiri becek sebuah pasar tradisional. Tapi kami semua tidak pergi ke pasar tersebut, melainkan ke sebuah lapangan berumput sedikit tadi.

Bersama guru olahraga, kami digiring berbaris dua-dua. Hari itu hari berolahraga di luar sekolah, jadi kami semua pergi menuju lapangan dekat pasar itu.

Tujuannya sih, hanya bermain sepak bola. Sehingga para murid perempuan hanya bisa menjadi penonton bersama belasan murid laki-laki lainnya yang mendapat giliran main selanjutnya.

Memang tidak adil. Karena hanya giliran pertama-lah yang kenyataannya dapat waktu bermain, dan setelah permainan usai..kami pun harus kembali ke sekolah tanpa memainkan giliran yang kedua. Bahkan para murid perempuan sama sekali tidak melakukan apa-apa.

Aku yang bosan hanya bisa menggali-gali tanah dengan ranting kayu. Sedangkan murid-murid lain ada yang menyimak pertandingan, mengobrol, bercanda, berlari-lari, memanjat pohon di sekitar lapangan, atau hanya melihat apa yang sedang kulakukan.

“Men..! Yusmen..!! Ngapain lo ngorek-ngorek tanah?” ternyata si Rambut Klimis yang menyapa. Tampak tertarik melihatku.

“Gak ngapa-ngapain, sih.. Tapi dari pada nungguin yang lain main..” kataku.

“Eh, Men. Bikin jebakan, yuk?” kata si Klimis riang. Aku tak menjawab. Hanya tersenyum heran.

“Gue juga mau gali tanah ah…” sekarang ia ikut-ikutan.

Tak lama si Lelaki Muka Imut datang, “Ih..lagi pada ngapain sih? Ikutan dong…”

Astaga! Anak-anak ini kenapa mengikutiku? “Lo berdua ngapain sih, ikut-ikutan gali tanah?” kataku jengkel.

“Iseng aja..” kata si Klimis riang tapi menjengkelkan.

“Iya, iseng..eh, ikut-ikutan aja lah!” Kini si Muka Imut menimpali dengan tawa.

Tak jelas kami melakukan apa tapi cukup mengundang perhatian para murid perempuan di sekitarnya. Si Sipit dan si Riang Medok ini diantaranya. Gadis-gadis ini juga penasaran melihat tingkah laku kami bertiga.

“Ihh….pada jorok maenin tanah!” kata si Sipit jijik memandang kami.

“Ye..terserah kita, Vijay!” kata si Muka Imut.

“Dasar pada jorok! Kotor-kotoran..” si Riang Medok menambahkan.

Lalu terjadilah percekcokan antara kedua gadis itu melawan si Muka Imut.

Aku dan si Klimis malas menanggapi mereka dan terus asyik menggali tanah. “Biarin aja mereka berisik, kita gali aja terus..! Oh iya, Vijay itu siapa sih?” tanyaku pada si Klimis.

(Perdebatan ketiga temanku masih berlanjut..)

“Oh..itu nama adiknya si Sipit.”

“Kok Vijay?” aku terheran.

“Soalnya ibunya si Sipit suka sama artis India si Vijay-Vijay itu. Jadi nama adiknya Vijay!”

Aku tertawa geli mendengarnya. Baru kali itu aku mendengar obsesi seseorang sampai sejauh itu. Ini bukan masalah rasisme, tapi lucu saja mendengar ada teman memiliki adik yang sama-sama berwajah Asia Timur dengannya tetapi bernama India.

“Lo serius?” tanyaku. Si Klimis mengangguk.

Si Muka Imut masih meladeni kedua gadis itu. “Sana pergi.. Gue kasih cacing lo!”

Kedua gadis itu tak gentar. “Gak takut tuh! Wek..!” Namun, “AAAAWW…” kedua gadis itu kini menjerit. Mereka benar-benar dilempari cacing tanah besar yang ditemukan oleh si Muka Imut. Keduanya berlari. Cacing itu jatuh dipinggir lapangan. Dan..

BUKK…!! Sebuah bola menghantam keras cacing yang tergeletak di tanah tadi. Cacing itu mati.

Beberapa saat kemudian..

Kami sudah saling memaafkan. Pertandingan telah usai, dan benar saja tak ada giliran bermain kedua. Guru serta murid yang lain juga mulai bergegas kembali ke sekolah. Yang tersisa hanya kami berlima.

Kami merasa bersalah pada cacing yang mati itu. Jadi kami memutuskan untuk menguburkan si cacing. Dan dengan prosesi a la India pun kami menguburnya. Lalu sebagai penghormatan, kami namakan cacing malang tersebut juga dengan nama Vijay. Si Sipit pun memahami. Ia sudah tidak marah lagi.

Hari itu, kelas 4 SD seekor cacing malang terbunuh karena ulah kami di sebuah lapangan. Walaupun tak sepenuhnya salah kami..

Kini, tahun 2009, di lapangan dekat pasar Cibubur tempat bersemayam si cacing telah berdiri kokoh panti rehabilitasi khusus pecandu narkoba. Kenangan yang menyedihkan. Sungguh kasihan..

***
Fully dedicated to Our Lovely Worm!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: