Permainan Dan Obsesi Paling Konyol Di Muka Bumi.

Angkot merah bertuliskan “POLOS” pada sisi atas kaca depan itu berhenti tepat di pertigaan yang sering disebut “portal”. Kami berenam, kadang berdelapan, turun dari angkot trayek T.18 itu sambil masing-masing menyerahkan 700 rupiah pada si sopir. Menyeberang jalan bersama-sama, beriringan. Sambil tertawa bersenda gurau.

Namun, entah jenis setan apa yang lewat. Tiba-tiba daun di sepanjang jalan meranggas berjatuhan. Kecoklatan dan kering kerontang tertiup angin nan gersang. Cukup dramatis bak film India. Tak ayal kami berenam saling pandang.

Dan entah setan apalagi yang datang selanjutnya, kami berenam juga tak bisa tinggal diam menciptakan kekonyolan tak masuk akal.

Bayangkan saja, apakah lazim 6 orang anak lelaki berseragam putih-biru terobsesi dengan daun jatuh setelah pulang sekolah?

Tiga diantara kami sedikit berlari a la Mask Rider mengejar monster. Daun yang jatuh mereka anggap efek ledakan sinar laser. Dua orang lagi berlari tertawa manja bak film India sambil berayun memutar di tiang listrik. Menimbulkan kesan bunga berguguran.

Sedangkan aku membayangkan salju tebal pada dedaunan kering yang menumpuk dibawahnya. Menendang serta menghamburkannya riang gembira. Mirip orang gila.

Tiap orang yang lalu lalang amat prihatin geleng-geleng kepala melihat keadaan kami yang terobsesi pada daun kering meranggas. Pikirnya kami butuh ladang bermain dengan iklim empat musim. Memandang kami bahkan hingga di kejauhan. Kasihan.

Tidak cukup sampai disitu sebuah pohon ketapang rindang menjadi sasaran kami selanjutnya. Kami panjat dahan-dahannya yang lentur. Melempar buah-buah ketapang. Melompat pada dahan kerasnya. Hingga bergelantung bagai lutung.

Bayangan di depan kami berubah menjadi belantara rimba. Liar, gelap, dan bersemak. Sedikit brutal dengan beberapa jenis hewan melata.

“Udah ah, capek.. Pulang yuk?! Lagian dari tadi hewan melatanya cuma cicak nyasar di pohon doang..” celetuk si Belah Tengah.

“Lo pada gak mampir buat minum dulu?” tanya si Jerawat Kacang.

“Enggak deh, kita pulang aja.. Ketemu besok ya?” kataku.

“OKE!!” yang lain menyetujuinya. Kami kemudian turun dari pohon itu satu persatu.

Si Anak Iseng kemudian memanggilku setelah kami semua pisah jalan, “Men, cepetan jalannya!”

“Iya.”

Kebetulan kami satu jalan karena kami bertetangga.

“Ngapain sih, buru-buru amat?” tanyaku. ” Mendingan main lama-lamaan?”

“Lama-lamaan jalan? Ayo…”

Setan aneh merasuki kami berdua. Kami berlomba saling berlama-lama melangkah.

Tak puas dengan itu, karena persaingan makin ketat, kami menggantinya menjadi “dekat-dekatan” melangkah. Layaknya orang kurang waras, kami berlomba sambil tertawa melakukan langkahan paling dekat. Inci per inci dalam tiap langkahan.

Sungguh permainan paling bodoh yang pernah ada di bumi! Dan sayangnya, segala permainan-permainan konyol dan obsesi aneh itu menjadi ritual penting sepulang sekolah…

Untung saja kami cepat menyadarinya menjelang mimpi basah pertama kami datang… Setahu kami sih, begitu!

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: