Etika Berwawancara.

Seorang ibu berbicara terbata-bata sambil menangis di depan mikrofon bertuliskan sebuah nama salah satu stasiun tv nasional, “Sa..sa..ya eng..gak tahu ke..kejadi..annya, Pak. Tahu..tahu rum..ah sa..ya sudah ludes di..lalap a..api, Pak.”

“Ibu sedih?” tanya suara pria tanpa sosok yang diketahui reporter tv itu bertanya pada si ibu.

“Sangat sedih, Pak.”

Astaga..pertanyaan macam apa itu?! Jelas-jelas si ibu menangis sedih karena rumahnya ludes dilahap si Jago Merah! Secara penilaian awam pun, penonton tahu keadaan hati si ibu dari tayangan tersebut.

Lalu ada lagi, “Bapak lagi nunggu antrian ya, Pak?” Tanya si reporter.

(Jelas-jelas si bapak sedang antri)

“Iya,” jawab si bapak.

“Antrian apa, Pak?”

(Jelas-jelas juga membawa tabung gas isi 3 kilo)

“Antri gas 3 kilo..”

“Memangnya untuk apa, Pak, gas 3 kilo?”

Astaganaga..! Reporter ini sekolah tidak, sih? Pertanyaan yang diberikannya sungguh tak berbobot sama sekali. Dan ini sering terjadi di hampir semua liputan berita tv nasional.

Memanglah jumlahnya sedikit dan–biasanya juga–terjadi oleh para kontributor daerah, tapi apakah tak ada standar pemilihan reporter sebelumnya? Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?

Bukankah tak baik pula–dalam contoh pertama diatas–jika seseorang yang sedang mengalami guncangan tiba-tiba diwawancarai? Ini jelas-jelas kurang ber-etika. Jangan karena si ibu bersedia untuk diwawancarai lantas langsung benar-benar diwawancarai. Secara psikologis pasti tidak dibenarkan. Coba saja bayangkan jika kita tiba-tiba terkena musibah besar lalu ditanya-tanyai demi sebuah berita berdurasi 1-2 menit. Kita pasti butuh ketenangan untuk menghadapi musibah itu. Tidak langsung ditanya-tanya, butuh waktu menenangkan diri pastinya.

Belum lagi jika berita yang tak ada dipaksakan ada. Yang sebenarnya gosip tetapi dijadikan fakta dengan cara memaksa pula! Sungguh tidak ada etika berwawancara sama sekali.

Dan parahnya lagi, tayangan berita seperti itu ada di depan mata kita setiap hari. Dari pagi hingga malam hari tak henti-henti.

Pertanyaannya.. Akankah selalu seperti ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: