Archive for February, 2010

Mengukur Kadar Nasionalisme.

Seorang teman bertanya seberapa besar rasa nasionalisme padaku. Aku memang tak langsung menjawabnya, alih-alih membuka mulut kukeluarkan telepon selularku dari kantong celana. Lalu kutunjukan padanya.

Temanku heran dan mengamati ponsel itu dalam-dalam. Ia memandangiku, “Apa? Lo mau ngasih tahu apa?!”

“Lihat dulu..!”

Lama ia perhatikan.

“Men, lo pake Bahasa Indonesia ya di hape lo?”

“Iya. Salah? Gak kan?”

“Ya emang enggak, tapi kalo gue ribet aja bacanya. Udah keseringan pake Bahasa Inggris,” katanya.

“Tapi bukannya gue gak ngerti Bahasa Inggris sama sekali.”

Dahinya mengernyit, “Lha, terus apa? Emang Bahasa Indonesia lo udah bener?”

“Nah, itu dia! Karena gak bener itulah gue sebenernya malu. Jadi kalo orang tanya tentang rasa nasionalisme ke gue, yang gue jawab pertama adalah penggunaan Bahasa Indonesia di setiap kesempatan. Terserah orang mau bilang gue sok atau apa. Cuma itu hal yang pertama gue bisa lakuin. Walau gue juga gak bagus-bagus amat dalam berbahasa yang baik dan benar.”

“Terus hubungannya sama rasa nasionalisme bela negara apa? Bukannya hampir sama?”

“Mmm..itu bukannya patriotisme yah?”

“Okelah.. Tapi contoh lainnya?” tanya temanku.

“Wah..kalo yang lo maksud tentang prestasi unt–“

Ia memotongku, “Itu juga bukan?”

“Ya itu, gue gak mampu sejauh itu.”

“Tapi ya, kalo pasang-pasang atribut–“

“Sori gue potong. Itu dia kesalahan dari kita. Kita kadang mikir untuk mengukur rasa nasionalisme itu harus pasang atribut kenegaraan, menang olimpiade atau sebagainya. Padahal menurut gue gak mesti gitu-gitu amat. Lo bisa hafal dan memaknai Pancasila juga udah sama. Cuma kebanyakan kita udah terlalu males buat itu semua.

Makannya gue cuma bisa mulai dari hal terkecil seperti menerapkan Bahasa Indonesia disegala kesempatan semampu gue. Ya kalau lupa, dimaklum aja..” kataku sambil tertawa.

“Intinya?”

“Bagi gue banyak cara mengukur nasionalisme. Gak mesti yang aneh-aneh. Bodo amat gue dibilang apa.. Mau sok kek, mau belagu kek… Toh orang lain juga tahu mana yang bener.”

Temanku tertawa tertahan.

“Kenapa lo ketawa? Heh..jawab! Apaan kagak?”

“Pantesan bahasa di Facebook lo Bahasa Indonesia mulu, gue pikir lo rada bego dan gak nger–“

“Akh..sial lo!!”

Kami pun tertawa.

***

Advertisements

Etika Berwawancara.

Seorang ibu berbicara terbata-bata sambil menangis di depan mikrofon bertuliskan sebuah nama salah satu stasiun tv nasional, “Sa..sa..ya eng..gak tahu ke..kejadi..annya, Pak. Tahu..tahu rum..ah sa..ya sudah ludes di..lalap a..api, Pak.”

“Ibu sedih?” tanya suara pria tanpa sosok yang diketahui reporter tv itu bertanya pada si ibu.

“Sangat sedih, Pak.”

Astaga..pertanyaan macam apa itu?! Jelas-jelas si ibu menangis sedih karena rumahnya ludes dilahap si Jago Merah! Secara penilaian awam pun, penonton tahu keadaan hati si ibu dari tayangan tersebut.

Lalu ada lagi, “Bapak lagi nunggu antrian ya, Pak?” Tanya si reporter.

(Jelas-jelas si bapak sedang antri)

“Iya,” jawab si bapak.

“Antrian apa, Pak?”

(Jelas-jelas juga membawa tabung gas isi 3 kilo)

“Antri gas 3 kilo..”

“Memangnya untuk apa, Pak, gas 3 kilo?”

Astaganaga..! Reporter ini sekolah tidak, sih? Pertanyaan yang diberikannya sungguh tak berbobot sama sekali. Dan ini sering terjadi di hampir semua liputan berita tv nasional.

Memanglah jumlahnya sedikit dan–biasanya juga–terjadi oleh para kontributor daerah, tapi apakah tak ada standar pemilihan reporter sebelumnya? Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?

Bukankah tak baik pula–dalam contoh pertama diatas–jika seseorang yang sedang mengalami guncangan tiba-tiba diwawancarai? Ini jelas-jelas kurang ber-etika. Jangan karena si ibu bersedia untuk diwawancarai lantas langsung benar-benar diwawancarai. Secara psikologis pasti tidak dibenarkan. Coba saja bayangkan jika kita tiba-tiba terkena musibah besar lalu ditanya-tanyai demi sebuah berita berdurasi 1-2 menit. Kita pasti butuh ketenangan untuk menghadapi musibah itu. Tidak langsung ditanya-tanya, butuh waktu menenangkan diri pastinya.

Belum lagi jika berita yang tak ada dipaksakan ada. Yang sebenarnya gosip tetapi dijadikan fakta dengan cara memaksa pula! Sungguh tidak ada etika berwawancara sama sekali.

Dan parahnya lagi, tayangan berita seperti itu ada di depan mata kita setiap hari. Dari pagi hingga malam hari tak henti-henti.

Pertanyaannya.. Akankah selalu seperti ini?

Indonesia: Negara Murah Senyum?

Saya tersenyum-senyum membaca sebuah artikel yang mengatakan kalau masyarakat Indonesia paling murah senyum. Namun sayang, artikel tersebut kurang jelas sehingga memaksa saya untuk “berlayar” di dunia maya. Menunggu sekian lama akhirnya saya mendapatkan info yang lengkap mengenai artikel itu. Ternyata yang dimaksud “murah senyum” itu adalah hasil survey The Smiling Report 2009 yang menempatkan Indonesia pada posisi pertama Negara Paling Murah Senyum Di Dunia dalam pelayanan publik serta transportasi dengan nilai 98%. 

Cukup takjub saya membaca artikel itu… Bayangkan saja, disaat banyak orang senyum-senyum tanpa sebab Indonesia ternyata mendapatkan predikat seperti itu. Jujur saya katakan, “Luar Biasa…!”

Kenapa saya bilang luar biasa?

Anda tentu paham dan tahu bahwa banyak orang-orang disekitar kita memasang topeng dimukanya. Penuh kepalsuan, kebohongan dan sebagainya. Tahu apa saya? Bisa saja saya sendiri yang malah sedang memasang topeng. Hanya saja topengnya terlalu bagus untuk menutupi semua itu. Sehingga banyak orang yang tak bisa melihat kebusukan dan kepalsuan kita, ya…mungkin pepatahnya adalah “…tercium juga”.

Artikel itu makin menggelitik saya, menambah senyum di wajah ini. Apa mungkin..yang dimaksud murahnya senyum orang Indonesia adalah karena banyak caleg gagal yang sekarang senyam-senyum tak jelas di rumah sakit jiwa? Kenyataannya memang begitu, makin banyak “orang tersenyum tanpa sebab” sehingga makin banyak pula orang gila di negeri ini. Sungguh ironi…

Lalu bagaimana kalau yang dimaksud senyumnya orang Indonesia adalah senyumnya “minim pendidikan”? Ada sebuah diskusi di internet yang bilang kalau orang asing, sebut saja orang bule, bertanya kepada masyarakat kita dengan bahasanya (yang kebetulan banyak tak dipahami masyarakat kita) sulit dipahami karena akses pendidikan kita yang sangat minim. Tapi saya tangkap sebagai “bodoh” yang diperhalus.

 

 

Oke…mungkin benar masyarakat kita (kebanyakan) akan senyam-senyum tak paham berinteraksi dalam bahasa asing karena tingkat pendidikan kita yang rendah. Lalu salah siapa? Apakah jenis “senyum tak mengerti” ini yang harus dipertahankan? 

Saya jadi ingin tertawa, bukan senyum lagi malah.

Terang saja! Saya pernah berada pada kalangan dimana senyum adalah senjata keteduhan hingga senjata basa-basi.

Senjata keteduhan yang saya maksud adalah senyum ikhlasnya seseorang. Saya sering menerimanya (semoga saja benar!) dari kerabat, keluarga serta sahabat saya. Walau terkadang saya juga ragu apakah itu senyum keteduhan atau senyum basa-basi.

Dan ternyata senyum basa-basi itu lebih sering tersungging dari semua jenis senyum apapun di muka bumi ini, atau paling tepatnya di Indonesia. Anda boleh tak percaya, tapi saya meyakinkan hal itu. Kenapa? Tipikal orang Indonesia kebanyakan, rasa “tak enak”.

“Kenapa lo senyum ke dia? Kenal?” tanya temanku.

Langsung kujawab, “Gak kenal sih, tapi gak enak aja! Basa-basi lah…”

“Bener juga…”

Hm…saya pun jadi senyam-senyum tak jelas menulis jurnal ini!

***

Vijay: Balada Cacing Lapangan Cibubur.


Lapangan itu berada tepat di pinggir jalan raya yang permukaannya menurun. Tidak jauh dari sana berdiri becek sebuah pasar tradisional. Tapi kami semua tidak pergi ke pasar tersebut, melainkan ke sebuah lapangan berumput sedikit tadi.

Bersama guru olahraga, kami digiring berbaris dua-dua. Hari itu hari berolahraga di luar sekolah, jadi kami semua pergi menuju lapangan dekat pasar itu.

Tujuannya sih, hanya bermain sepak bola. Sehingga para murid perempuan hanya bisa menjadi penonton bersama belasan murid laki-laki lainnya yang mendapat giliran main selanjutnya.

Memang tidak adil. Karena hanya giliran pertama-lah yang kenyataannya dapat waktu bermain, dan setelah permainan usai..kami pun harus kembali ke sekolah tanpa memainkan giliran yang kedua. Bahkan para murid perempuan sama sekali tidak melakukan apa-apa.

Aku yang bosan hanya bisa menggali-gali tanah dengan ranting kayu. Sedangkan murid-murid lain ada yang menyimak pertandingan, mengobrol, bercanda, berlari-lari, memanjat pohon di sekitar lapangan, atau hanya melihat apa yang sedang kulakukan.

“Men..! Yusmen..!! Ngapain lo ngorek-ngorek tanah?” ternyata si Rambut Klimis yang menyapa. Tampak tertarik melihatku.

“Gak ngapa-ngapain, sih.. Tapi dari pada nungguin yang lain main..” kataku.

“Eh, Men. Bikin jebakan, yuk?” kata si Klimis riang. Aku tak menjawab. Hanya tersenyum heran.

“Gue juga mau gali tanah ah…” sekarang ia ikut-ikutan.

Tak lama si Lelaki Muka Imut datang, “Ih..lagi pada ngapain sih? Ikutan dong…”

Astaga! Anak-anak ini kenapa mengikutiku? “Lo berdua ngapain sih, ikut-ikutan gali tanah?” kataku jengkel.

“Iseng aja..” kata si Klimis riang tapi menjengkelkan.

“Iya, iseng..eh, ikut-ikutan aja lah!” Kini si Muka Imut menimpali dengan tawa.

Tak jelas kami melakukan apa tapi cukup mengundang perhatian para murid perempuan di sekitarnya. Si Sipit dan si Riang Medok ini diantaranya. Gadis-gadis ini juga penasaran melihat tingkah laku kami bertiga.

“Ihh….pada jorok maenin tanah!” kata si Sipit jijik memandang kami.

“Ye..terserah kita, Vijay!” kata si Muka Imut.

“Dasar pada jorok! Kotor-kotoran..” si Riang Medok menambahkan.

Lalu terjadilah percekcokan antara kedua gadis itu melawan si Muka Imut.

Aku dan si Klimis malas menanggapi mereka dan terus asyik menggali tanah. “Biarin aja mereka berisik, kita gali aja terus..! Oh iya, Vijay itu siapa sih?” tanyaku pada si Klimis.

(Perdebatan ketiga temanku masih berlanjut..)

“Oh..itu nama adiknya si Sipit.”

“Kok Vijay?” aku terheran.

“Soalnya ibunya si Sipit suka sama artis India si Vijay-Vijay itu. Jadi nama adiknya Vijay!”

Aku tertawa geli mendengarnya. Baru kali itu aku mendengar obsesi seseorang sampai sejauh itu. Ini bukan masalah rasisme, tapi lucu saja mendengar ada teman memiliki adik yang sama-sama berwajah Asia Timur dengannya tetapi bernama India.

“Lo serius?” tanyaku. Si Klimis mengangguk.

Si Muka Imut masih meladeni kedua gadis itu. “Sana pergi.. Gue kasih cacing lo!”

Kedua gadis itu tak gentar. “Gak takut tuh! Wek..!” Namun, “AAAAWW…” kedua gadis itu kini menjerit. Mereka benar-benar dilempari cacing tanah besar yang ditemukan oleh si Muka Imut. Keduanya berlari. Cacing itu jatuh dipinggir lapangan. Dan..

BUKK…!! Sebuah bola menghantam keras cacing yang tergeletak di tanah tadi. Cacing itu mati.

Beberapa saat kemudian..

Kami sudah saling memaafkan. Pertandingan telah usai, dan benar saja tak ada giliran bermain kedua. Guru serta murid yang lain juga mulai bergegas kembali ke sekolah. Yang tersisa hanya kami berlima.

Kami merasa bersalah pada cacing yang mati itu. Jadi kami memutuskan untuk menguburkan si cacing. Dan dengan prosesi a la India pun kami menguburnya. Lalu sebagai penghormatan, kami namakan cacing malang tersebut juga dengan nama Vijay. Si Sipit pun memahami. Ia sudah tidak marah lagi.

Hari itu, kelas 4 SD seekor cacing malang terbunuh karena ulah kami di sebuah lapangan. Walaupun tak sepenuhnya salah kami..

Kini, tahun 2009, di lapangan dekat pasar Cibubur tempat bersemayam si cacing telah berdiri kokoh panti rehabilitasi khusus pecandu narkoba. Kenangan yang menyedihkan. Sungguh kasihan..

***
Fully dedicated to Our Lovely Worm!!

Permainan Dan Obsesi Paling Konyol Di Muka Bumi.

Angkot merah bertuliskan “POLOS” pada sisi atas kaca depan itu berhenti tepat di pertigaan yang sering disebut “portal”. Kami berenam, kadang berdelapan, turun dari angkot trayek T.18 itu sambil masing-masing menyerahkan 700 rupiah pada si sopir. Menyeberang jalan bersama-sama, beriringan. Sambil tertawa bersenda gurau.

Namun, entah jenis setan apa yang lewat. Tiba-tiba daun di sepanjang jalan meranggas berjatuhan. Kecoklatan dan kering kerontang tertiup angin nan gersang. Cukup dramatis bak film India. Tak ayal kami berenam saling pandang.

Dan entah setan apalagi yang datang selanjutnya, kami berenam juga tak bisa tinggal diam menciptakan kekonyolan tak masuk akal.

Bayangkan saja, apakah lazim 6 orang anak lelaki berseragam putih-biru terobsesi dengan daun jatuh setelah pulang sekolah?

Tiga diantara kami sedikit berlari a la Mask Rider mengejar monster. Daun yang jatuh mereka anggap efek ledakan sinar laser. Dua orang lagi berlari tertawa manja bak film India sambil berayun memutar di tiang listrik. Menimbulkan kesan bunga berguguran.

Sedangkan aku membayangkan salju tebal pada dedaunan kering yang menumpuk dibawahnya. Menendang serta menghamburkannya riang gembira. Mirip orang gila.

Tiap orang yang lalu lalang amat prihatin geleng-geleng kepala melihat keadaan kami yang terobsesi pada daun kering meranggas. Pikirnya kami butuh ladang bermain dengan iklim empat musim. Memandang kami bahkan hingga di kejauhan. Kasihan.

Tidak cukup sampai disitu sebuah pohon ketapang rindang menjadi sasaran kami selanjutnya. Kami panjat dahan-dahannya yang lentur. Melempar buah-buah ketapang. Melompat pada dahan kerasnya. Hingga bergelantung bagai lutung.

Bayangan di depan kami berubah menjadi belantara rimba. Liar, gelap, dan bersemak. Sedikit brutal dengan beberapa jenis hewan melata.

“Udah ah, capek.. Pulang yuk?! Lagian dari tadi hewan melatanya cuma cicak nyasar di pohon doang..” celetuk si Belah Tengah.

“Lo pada gak mampir buat minum dulu?” tanya si Jerawat Kacang.

“Enggak deh, kita pulang aja.. Ketemu besok ya?” kataku.

“OKE!!” yang lain menyetujuinya. Kami kemudian turun dari pohon itu satu persatu.

Si Anak Iseng kemudian memanggilku setelah kami semua pisah jalan, “Men, cepetan jalannya!”

“Iya.”

Kebetulan kami satu jalan karena kami bertetangga.

“Ngapain sih, buru-buru amat?” tanyaku. ” Mendingan main lama-lamaan?”

“Lama-lamaan jalan? Ayo…”

Setan aneh merasuki kami berdua. Kami berlomba saling berlama-lama melangkah.

Tak puas dengan itu, karena persaingan makin ketat, kami menggantinya menjadi “dekat-dekatan” melangkah. Layaknya orang kurang waras, kami berlomba sambil tertawa melakukan langkahan paling dekat. Inci per inci dalam tiap langkahan.

Sungguh permainan paling bodoh yang pernah ada di bumi! Dan sayangnya, segala permainan-permainan konyol dan obsesi aneh itu menjadi ritual penting sepulang sekolah…

Untung saja kami cepat menyadarinya menjelang mimpi basah pertama kami datang… Setahu kami sih, begitu!

***

Terhasut Blogging


Para Penyemangat

Saat musim hujan di awal tahun 2010 menambah flu pada hidung saya, timeline pada akun twitter saya diramaikan oleh “kicauan” orang-orang cerdas dan pintar. Mereka beraspirasi, berpendapat, menuangkan segala ide, bereksperimen dan membuat sebuah kejutan-kejutan yang imajinatif. Sungguh hebat dan luar biasa sekali!
Walaupun buah pikiran itu tertuang hanya dalam kapasitas 140 karakter. Mereka sanggup menarik perhatian para “followers” mereka. Perhatian untuk menyimak apa saja yang orang-orang hebat itu tweet. Tak ayal jumlah followers mereka pun ratusan, ribuan bahkan hingga puluhan ribu.
Contohnya teman saya Tangguh Merdeka, dengan akun @kodokracun -nya, ia sering membiuskan saya ide-ide gila. Tweet-nya cerdas dan informatif. Kebiasaan saya menulis yang telah lama ditinggalkan pun menjadikan saya tergelitik untuk kembali menulis. Ada saja idenya. Bahkan walaupun tweet yang terkadang tak penting sekalipun.
Lalu ada Lingga Kresna dengan akunnya @HelloLingga. Si pujangga ini sebenarnya orang pertama yang menghasut saya kembali menulis, kendati tak secara langsung. Ia pernah menulis sebuah pesan dalam Facebook kalau salah satu motivasi menulisnya datang dari saya. Jujur saya terharu dengan pernyataan ini. Walaupun benar atau tidaknya dengan pernyataannya itu, yang pasti hal itu menjadi oksigen baru. Semangat baru untuk memulai kembali menuangkan ide di kepala yang sudah agak “doyong” sebelah ke kiri.

Memulai Blogging
Hari ini, Jumat, 19 Februari 2010, ketika pilek masih melanda, ketika beberapa wilayah Jakarta dilanda banjir, ketika beberapa orang masih mengutuk Marsha (ABG yang menjadi sorotan publik atas peghinaannya terhadap sekolah negeri di Indonesia dalam situs Twitter), ketika skandal Bank Century masih tak berujung, ketika sebagian besar para pengguna internet ramai-ramai menolak RPM Konten Menkominfo, ketika Taman Nasional Pulau Komodo turun peringkat dalam pemilihan 7 Keajaiban Dunia yang baru, ketika 4 orang bocah tertawa cekikikan di warnet, ketika lagu Kangen Band sedang mengalun di warnet…saya menyatakan kembali menulis. Spektakuler bukan? 😉
Dan atas usulan dari kedua teman saya itu, saya akan menuangkan segalanya dalam akun blog ini…

Benang Merah
Mempunyai kenalan dan teman yang banyak itu menyenangkan. Mereka memberi saya ide-ide baru, semangat baru, dan mengembalikan beberapa kemalasan serta menormalkan kepala saya yang agak doyong ini…
Masuk ke situs jejaring sosial contohnya, banyak orang-orang yang membawa virus kreatif. Hal demikian dapat memacu kita untuk ikut kreatif. Jadi, mari memperbanyak teman dan ungkapkan ekspresi, ide serta kreasi kalian!!